![]() |
| Guruh Soekarnoputra (foto: balipuspanews.com) |
Jakarta (Setarapost24): Kepergian Guruh Soekarnoputra pada Sabtu, 26 September 2026, menyisakan duka bagi keluarga, dunia seni, dan masyarakat Indonesia. Di balik perjalanan hidupnya sebagai seniman dan budayawan, tersimpan kisah penuh perjuangan ketika Guruh dilahirkan oleh Fatmawati pada 13 Januari 1953.
Guruh merupakan putra bungsu Presiden pertama Republik
Indonesia Soekarno dan Fatmawati. Ia lahir di tengah suasana Istana Merdeka,
setelah sang ibu mengalami tanda-tanda persalinan ketika sedang beristirahat di
serambi belakang istana.
Berdasarkan catatan Fatmawati dalam buku Catatan Kecil
Bersama Bung Karno, proses kelahiran Guruh berlangsung menjelang tengah hari.
Bung Karno yang saat itu berada di sekitar istana segera dipanggil kembali
setelah Fatmawati mulai merasakan kontraksi.
Bung Karno Sempat Menyiapkan Nama Taufan
Sebelum bayi tersebut diberi nama Guruh, Soekarno ternyata
sempat memiliki pilihan nama lain.
Dalam catatan Fatmawati, Bung Karno awalnya mengusulkan nama
Taufan untuk putra mereka. Namun, Fatmawati tidak menyetujui nama tersebut dan
lebih memilih nama Guruh.
Bayi laki-laki itu kemudian dikenal dengan nama Mohammad
Guruh Irianto Soekarnoputra.
Kelahiran Guruh juga berlangsung dalam kondisi yang tidak
biasa. Saat dilahirkan, tali pusat diketahui melilit lehernya. Dalam istilah
yang digunakan dalam catatan Fatmawati, kondisi tersebut disebut sebagai bayi
yang lahir berkalung usus.
Fatmawati Mengalami Pendarahan Pascapersalinan
Kebahagiaan atas kelahiran Guruh ternyata disertai situasi
kritis bagi Fatmawati. Sang ibu mengalami pendarahan hebat setelah proses
persalinan.
Tim medis kemudian berupaya menangani kondisi tersebut dan memberikan
transfusi darah. Dalam catatannya, Fatmawati mengungkapkan rasa syukur karena
kondisi tersebut akhirnya dapat diatasi.
Peristiwa itu menjadi pengalaman berat bagi Fatmawati.
Setelah persalinan, dokter bahkan menyarankan agar dirinya tidak kembali
mengandung karena kehamilan berikutnya dinilai dapat membahayakan
keselamatannya.
Guruh Tumbuh Menjadi Tokoh Seni dan Budaya
Guruh Soekarnoputra kemudian tumbuh menjadi salah satu tokoh
penting dalam perkembangan seni dan kebudayaan Indonesia. Ia dikenal melalui
berbagai karya seni, musik, tari, serta aktivitas kebudayaan.
Selain kiprahnya di bidang seni, Guruh juga aktif dalam
politik dan pernah menjadi anggota DPR RI.
Guruh meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026, sekitar
pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospital Semanggi, Jakarta. Ia
mengembuskan napas terakhir pada usia 73 tahun.
Jenazah Guruh kemudian dimakamkan di TPU Karet Bivak,
Jakarta, di samping pusara Fatmawati. Lokasi tersebut disebut sesuai dengan
pesan Guruh sebelum meninggal dunia.
Kepergian Guruh tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga Soekarno, tetapi juga bagi dunia seni dan budaya Indonesia yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.
