![]() |
| Upaya penanganan karhutla (foto: kehutanan.go.id) |
SETARAPOST24, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghanguskan sedikitnya 62 hektare lahan di empat provinsi selama periode 26–27 September 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kebakaran tersebut terjadi di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Timur.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan
Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa kebakaran
terjadi di sejumlah wilayah dengan luas lahan terdampak yang berbeda-beda.
Petugas gabungan telah melakukan penanganan untuk memadamkan api dan mencegah
kebakaran meluas.
Karhutla di Sulawesi Tengah Hanguskan Tiga Hektare
Salah satu titik kebakaran berada di Desa Wanamukti Utara,
Kecamatan Bolano, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Peristiwa tersebut
terjadi pada Sabtu, 26 September 2026, sekitar pukul 01.00 WITA.
Akibat kejadian itu, sekitar tiga hektare lahan terbakar.
Hingga laporan disampaikan, penyebab kebakaran masih belum diketahui dan sedang
dalam penyelidikan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi
Moutong berkoordinasi dengan aparat kecamatan dan pemerintah desa setempat.
Upaya pemadaman serta penyekatan area terdampak dilakukan untuk mencegah api
menjalar ke wilayah lain dan membahayakan masyarakat.
Sebanyak 20 Hektare Lahan Terbakar di Pinrang
Kebakaran juga melanda Desa Malimpung, Kecamatan Patampanua,
Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 26 September 2026.
BNPB mencatat luas lahan yang terbakar di wilayah tersebut
mencapai 20 hektare. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam peristiwa ini.
BPBD Kabupaten Pinrang bersama tim gabungan segera melakukan
asesmen dan pemadaman di lokasi kebakaran. Penanganan dilakukan untuk
mengendalikan api sekaligus mengurangi risiko meluasnya dampak karhutla.
Penanganan Karhutla Terus Dilakukan
BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus
melakukan penanganan terhadap kebakaran hutan dan lahan di wilayah terdampak.
Langkah penanganan mencakup pemadaman langsung, pemantauan kondisi lapangan,
serta koordinasi antarlembaga.
Peristiwa karhutla di empat provinsi tersebut menjadi
pengingat pentingnya upaya pencegahan kebakaran, terutama ketika kondisi
lingkungan berisiko memicu penyebaran api.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sedini mungkin.
