| Kondisi siswa yang dirawat akibat konsumsi MBG di Pati, Jawa Tengah (foto: minanews.net) |
Pati (Setarapost24) - Sebanyak 230 siswa dari dua sekolah di
Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengalami sejumlah keluhan
kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Keluhan yang
muncul antara lain mual, muntah, mulas, sakit perut, hingga diare.
Kasus tersebut terjadi pada Rabu (9/9/2026), sehari
setelah para siswa menerima dan mengonsumsi makanan program MBG. Dua sekolah
yang terdampak adalah SMP Negeri 1 Gembong dan MTs Negeri 3 Pati.
Keluhan Muncul Setelah Mengonsumsi MBG
Berdasarkan informasi awal, makanan MBG disantap para siswa
pada Selasa siang. Pada malam harinya, sejumlah siswa mulai merasakan gangguan
kesehatan.
Keluhan kemudian semakin banyak dilaporkan pada Rabu. Para
siswa mengalami gejala yang berbeda-beda, mulai dari perut mulas, mual, muntah,
hingga diare. Kondisi tersebut membuat pihak sekolah dan petugas kesehatan
melakukan penanganan terhadap para siswa yang terdampak.
Dari dua sekolah tersebut, jumlah siswa yang mengalami
gejala mencapai sekitar 230 orang. Selain siswa, sejumlah guru juga dilaporkan
mengalami keluhan serupa.
Siswa Mendapat Penanganan Medis
Para siswa yang mengalami keluhan kemudian dibawa ke
fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan. Sejumlah
ambulans dikerahkan untuk membantu proses evakuasi dan membawa korban ke
fasilitas medis.
Petugas kesehatan juga melakukan pendataan terhadap siswa
yang mengalami gejala. Kondisi masing-masing korban berbeda, sehingga
penanganannya disesuaikan dengan tingkat keluhan yang dialami.
Makanan MBG Jadi Perhatian
Peristiwa tersebut memunculkan dugaan adanya masalah pada
makanan yang dibagikan melalui program MBG. Namun, penyebab pasti gangguan
kesehatan tersebut masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Makanan yang dikonsumsi para siswa dilaporkan berasal dari SPPG
Gembong 1. Pemeriksaan terhadap sampel makanan dan penyelidikan epidemiologis
diperlukan untuk memastikan apakah keluhan para siswa benar-benar berkaitan
dengan makanan MBG yang dikonsumsi.
Pihak berwenang juga perlu menelusuri proses pengolahan,
penyimpanan, hingga distribusi makanan untuk mengetahui kemungkinan penyebab
terjadinya gangguan kesehatan.
Kasus Masih Didalami
Kasus dugaan keracunan tersebut menjadi perhatian karena
melibatkan ratusan pelajar dalam waktu yang berdekatan. Pemerintah daerah
bersama instansi terkait diharapkan segera melakukan pemeriksaan menyeluruh
untuk memastikan keamanan makanan yang diberikan kepada para penerima MBG.
Hingga penyebabnya dipastikan, masyarakat diminta tidak menarik kesimpulan secara terburu-buru. Penanganan korban dan pemeriksaan terhadap makanan menjadi langkah penting untuk mengetahui sumber masalah. (antaran.id)