Kasus Gangguan Kesehatan MBG Meluas, Ratusan Siswa di Pati Terdampak dan 14 SPPG di DIY Dibekukan

Selasa, 08 September 2026 | 23.07 WIB

Bagikan:

 

Kondisi siswa yang diduga mengalami keracunan MBG (foto: bbc.com)

Yogyakarta (Setarapost24) - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapat sorotan setelah muncul laporan gangguan kesehatan di sejumlah daerah. Di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ratusan siswa dan guru mengalami mual serta diare setelah mengonsumsi menu MBG. Sementara di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pemerintah mengambil langkah evaluasi dan membekukan sementara 14 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).


Di Pati, 273 siswa dan 43 guru dari dua sekolah di Kecamatan Gembong dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan MBG yang dibagikan pada Selasa, 8 September 2026. Mereka berasal dari SMP Negeri 1 Gembong dan MTs Negeri 3 Pati.


Dari SMP Negeri 1 Gembong, tercatat 103 siswa dan 13 guru mengalami mual dan diare. Sementara di MTs Negeri 3 Pati terdapat 127 siswa dan 30 guru yang mengalami keluhan serupa. Para korban kemudian mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan.


Siswa Mengalami Beragam Keluhan

Sejumlah siswa dan orang tua di Pati menceritakan kondisi yang dialami setelah mengonsumsi makanan tersebut. Keluhan yang muncul antara lain diare berulang, pusing, mual, muntah, sakit perut hingga mimisan.


Salah seorang siswa bahkan mengaku mengalami diare hingga beberapa kali dalam sehari disertai pusing. Kondisi tersebut membuat sebagian siswa mengaku trauma untuk kembali mengonsumsi menu MBG. Pemberitaan mengenai pengalaman para korban juga mencatat adanya orang tua yang membawa anaknya untuk mendapatkan pemeriksaan setelah mengalami mual dan muntah.


Meski dugaan awal mengarah pada makanan MBG, Dinas Kesehatan Kabupaten Pati belum memastikan makanan tersebut sebagai penyebab. Petugas masih melakukan penyelidikan epidemiologis dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.


Investigasi di Sleman Belum Menemukan Penyebab Pasti

Kasus berbeda terjadi di Kabupaten Sleman, DIY. Dinas Kesehatan Sleman bersama Puskesmas Turi dan Field Epidemiology Training Program (FETP) UGM melakukan penyelidikan terhadap laporan gangguan kesehatan yang dialami penerima MBG dari SPPG Wonokerto, Kapanewon Turi.


Hasil sementara hingga Senin malam, 7 September 2026, menunjukkan dari 261 responden, sebanyak 35 orang mengalami keluhan kesehatan, sementara 226 lainnya tidak mengalami keluhan. Dari keseluruhan responden, 204 orang tercatat mengonsumsi MBG.


Keluhan yang paling banyak ditemukan adalah pusing dan sakit perut, masing-masing dialami 86 persen responden. Keluhan berikutnya berupa mual 69 persen, sakit kepala 66 persen, lemas 54 persen, serta muntah 34 persen.


Dalam penanganannya, satu pasien sempat menjalani rawat inap di RSUD Sleman. Sebanyak 19 orang menjalani rawat jalan, tujuh orang berobat secara mandiri, sedangkan sembilan orang tidak menjalani pengobatan.


Menu Bola-Bola Sapi Masih Ditelusuri

Hasil analisis epidemiologi terhadap lima menu MBG yang dikonsumsi penerima manfaat belum menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan gangguan kesehatan tersebut.


Menu bola-bola sapi goreng memang menunjukkan ukuran asosiasi paling tinggi dalam analisis, tetapi petugas belum dapat menyimpulkan bahwa makanan tersebut menjadi penyebab gangguan kesehatan. Pemeriksaan dan penelusuran masih berlangsung.


Hal ini menunjukkan bahwa laporan gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG belum otomatis dapat disebut sebagai keracunan akibat makanan tersebut. Kepastian penyebab tetap menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan epidemiologis.


14 SPPG di DIY Dibekukan

Di tengah munculnya sejumlah kasus tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) membekukan sementara 14 SPPG di DIY. Kebijakan itu diambil setelah muncul kasus gangguan kesehatan sekaligus temuan terkait persoalan perizinan.


Selain menghentikan sementara operasional SPPG yang bersangkutan, anggaran untuk unit-unit tersebut juga ditahan. Pemerintah menyatakan langkah tersebut merupakan bagian dari evaluasi dan upaya melindungi anak-anak penerima manfaat program MBG.


Biaya pengobatan bagi korban yang terdampak juga disebut akan ditanggung oleh BGN.


Keamanan Pangan Menjadi Sorotan

Rentetan kejadian di Pati dan DIY kembali menempatkan keamanan pangan sebagai persoalan penting dalam pelaksanaan MBG. Program yang menyasar anak-anak dalam jumlah besar membutuhkan sistem pengawasan yang ketat, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi makanan ke sekolah.


Di Pati, penyebab gangguan kesehatan masih dalam penyelidikan. Di Sleman, hasil pemeriksaan awal juga belum membuktikan adanya hubungan signifikan antara menu MBG dengan keluhan kesehatan.


Karena itu, pemerintah perlu memastikan seluruh proses investigasi dilakukan secara terbuka dan menyeluruh agar penyebab setiap kejadian dapat diketahui secara jelas dan kejadian serupa tidak berulang. (ANTARA, Suara.com, Mitrapost, SuaraJogja, dan Portaloka)

Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI