BPIP Apresiasi ISRI Gelar Seminar Bertemakan Pancasila

Minggu, 01 September 2019 | 21.17 WIB

Bagikan:
Jakarta | Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) menggelar Seminar Pancasila dengan tema "Gali Mutiara Pancasila dan Tumbuh Kembangkan Semangat Gotong Royong Bersama Organisasi Masyarakat di Kawasan Jabotabek" di Hotel Acacia, Jakarta (31/08).

Seminar tersebut menghadirkan narasumber, antara lain Dr. Hajono, SH., M.CL (Ketua Dewan Kehormatan DPN ISRI),  Irene Camelyn Sinaga, A.P., M.Pd. (Direktur Pembudayaan BPIP),  Drs. Bambang Yudoyono, M.si., (Wakil Ketua Dewan Kepakaran DPN ISRI), Marsda. TNI (Purn) Subandi Parto, SH., MH., MBA., (Ketua DPW ISRI DKI Jakarta), Ir. Didiek Poernomo (Waketum DPN ISRI), dengan moderator Cahyo Gani Saputro (Sekjend DPN ISRI).

Dalam seminar ini Irene Camelyn Sinaga, A.P., M.Pd. (Direktur Pembudayaan Pancasila BPIP) sebagai keynote Speaker mewakili Plt. Kepala BPIP menyampaikan apresiasi adanya seminar tersebut, karena BPIP masih minim SDM dan terbatas anggaran sehingga dirinya berharap acara kerjasama seperti ini harus sering dilaksanakan untuk mensosialisasikan Pancasila.

"Saya sangat apresiasi kepada ISRI dalam acara ini, " ungkapnya. Selain itu, dia menyampaikan pentingnya gotong royong yang merupakan pribadi bangsa Indonesia.

Tampak hadir sebagai narasumber yakni Ketua Umum DPN ISRI, Dr. Ir. Moh. M.C. Soenhadji, M.Sc. IPU. AER. ACPE. Dalam sambutannya, Soenhadji mengatakan, seminar ini sangat penting agar kita lebih memahami peranan penting Pancasila dalam bernegara dan berbangsa terutama mempraktekan gotong-royong dalam kehidupan sehari-hari.

"ISRI berkomitmen akan terus melaksanakan diskursus seperti ini agar jiwa dan pribadi Pancasila tetap ada di Indonesia dalam kemajuan teknologi saat ini," jelas Soenhadji.

Di tempat yang sama, Ketua Dewan Kehormatan DPN ISRI, Dr. Hajono, SH., M.CL, memaparkan bahww jiwa Pancasila adalah berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan sesama manusia tanpa melihat suku, agama, ras, dan golongan tertentu dan menghilangkan rasa kebencian terhadap sesama manusia.

Dia juga menjelaskan Pancasila sebagai dasar negara kaitannya dengan kehidupan bernegara dan penjabarannya dalam ketatanegaraan Indonesia dan Pancasila sebagai way of life kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan kehidupan serta interaksi dalam lingkup masyarakat dari lingkungan terkecil.

Wakil Ketua Dewan Kepakaran DPN ISRI, Drs. Bambang Yudoyono, MSi. dalam kesempatan ini juga menekankan bahwa Pancasila harus mengikuti perkembangan Jaman di mana era sekarang sudah masuk pada teknologi 4.0 bahkan hampir 5.0 namun tidak boleh menghilangkan makna historis dan filosofis Pancasila. Sejak dahul, Bambang menambahkan, neokolonialisme dan neokapitalisme menggerus Pancasila. Oleh karenannya, menurut Bambang, Pancasila harus terus ditanamkan sejak dini.

Pembicara yang berbeda, yakni Ketua DPW ISRI DKI Jakarta, Marsda. TNI (Purn) Subandi Parto
SH., MH., MBA., memaparkan bahwa aplikasi terkecil dalam Pancasila adalah "tengok orang lain" di mana kita harus peduli dengan orang di sekitar kita dan bagaimana kita harus bersikap kepada orang lain.

Subandi juga menerangkan pembinaan itu memenuhi tiga hal yaitu pengaturan, pengendalian dan pengawasan. Dia juga berharap, pendidikan Pancasila seharusnya berlaku bukan hanya pada anak tapi orang tua dan penjaga anak agar aplikasi Pancasila di implementasikan sesuai jamannya.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua Umum DPN ISRI, Ir. Didiek Poernomo, memaparkan bahwa bangsa Indonesia harus mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila pada kehidupan sehari hari. Didiek juga menjelaskan bahwa makna keragaman bangsa Indonesia tidak bisa hanya dipersepsikan dalam agama saja, sebagaimana kita lihat akomodasi interest hanya dalam lingkup Agama bahkan itu juga terlihat di BPIP, bahwa kita ketahui bersama kepercayaan dan keyakinan serta latar belakang suku, ras dan golongan yang beragam di Indonesia.

Dia juga mengingatkan bahwa Ketuhanan adalah kata sifat atau sejarah panjang bangsa Indonesia yang tidak hanya dapat diperspektifkan dalam agama.

Dalam seminar tersebut para narasumber memaparkan Pancasila secara kesejarahan, perdebatan dan konsensus para pendiri bangsa dalam BPUPKI hingga terbentuknya UUD 1945 hingga sampai saat ini bergulirnya isue pengembalian GBHN secara mendalam. (ril)
Bagikan:
KOMENTAR