Acara yang harusnya digelar pada hari Kamis, (21/6
2018) di Gelanggang Mahasiswa Universitas Sumatera Utara itu tiba-tiba
saja dibatalkan oleh panitia, dikarenakan salah satu paslon tidak bisa
hadir karena jadwalnya berbenturan.
Ketua
Kelompok Aspirasi Mahasiswa (KAM) BHINNEKA USU mengatakan debat pilkada
cagub dan cawagub yang rencananya akan dilakukan bersama mahasiswa ini
merupakan momentum yang baik. Di satu sisi mahasiswa sebagai calon
pemilih bisa menguji langsung calon gubernur dan wakil gubernurnya. Di
sisi lain, calon gubernur dan wakil gubernur dapat mengetahui langsung
apa keinginan dan keluhan dari para mahasiswa. Lalu dari situlah
mahasiswa dapat menjatuhkan pilihan logisnya siapa yang layak untuk
memimpin Sumut selama lima tahun ke depan.
"Sebenarnya
banyak mahasiswa yang sangat antusias untuk mengikuti kegiatan ini,
tetapi pada akhirnya kegiatan nya dibatalkan secara tiba-tiba. Jadi kami
di sini merasa pihak PEMA USU yang mengkoordinir BEM-SI tidak memiliki
transparansi dan diduga memiliki maksud tertentu dalam pembatalan
kegiatan ini," sambung Pengurus PEMA FP USU ini, Jumat (22/6/2018).
Salomo
juga menambahkan, sebagai mahasiswa harus memiliki sikap yang tegas.
Kami menyampaikan kekecewaan pada PEMA USU (BEM-SI) yang tidak secara
transparan menyampaikan penyebab gagalnya digelar kegiatan ini.
Sebelumnya,
telah disampaikan bahwa kedua kendidat berjanji untuk bersedia hadir
dalam debat pilkada cagub dan cawagub dengan mahasiswa, tetapi pihak
panitia mengatakan terjadi miskomunikasi dengan salah satu pasangan
kandidat.
"Calon pemimpin yang sejak awal saja
tidak dapat memenuhi janjinya pasti nanti ketika menjadi pemimpin juga
akan ingkar janji," tambah Salomo.
Salomo melanjutkan, oleh
karena itu, pihaknya atas nama mahasiswa USU yang tergabung dalam KAM
BHINNEKA USU meminta dua hal kepada PEMA USU (BEM-SI). Yang pertama agar
memberitahukan kandidat paslon mana yang tidak bisa hadir dan ingkar
janji terhadap mahasiswa. Kedua, membuka secara terang benderang, alasan
dibatalkannya kegiatan ini.
“Kami tunggu konfirmasinya 1x24 jam,” ujarnya mengakhiri.
Sebelumnya,
Relawan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus juga menyesalkan
dibatalkannya debat Cagub-Cawagub Sumatera Utara bersama mahasiswa ini.
Padahal,
ajang adu visi dan misi tersebut sudah disetujui masing-masing paslon
dan ternyata dibatalkan jelang digelarnya debat.
"Ini adalah momen
penting bagi kemajuan dan demokrasi pilkada yang menempatkan peran
mahasiswa dan bila ini digelar, ini yang pertama kali di Sumut. Ini juga
mendidik anak muda, terutama mahasiswa berani mengajak paslon untuk adu
argumentasi dan visi misi," ujar Relawan Gerak Sama Djoss, Budi, Kamis
(21/6/2018) sore.
Ia menyesalkan, jelang debat,
Paslon Eramas mengurungkan niatnya untuk hadir. "Pertemuan dengan tim
dan disetujui debat digelar 21 Juni 2018 hari ini. Djarot-Sihar
menyatakan kesiapan untuk hadir. Namun saat menjelang acara debat, ada
ketidaksiapan dari paslon lain dan akhirnya debat dibatalkan," ujarnya.
(BCL Comm)

