\n\n

Seputar Heboh Tari Ular, Ini Penjelasan Kemenag Padangsidimpuan

Minggu, 22 Desember 2019 | 00.21 WIB

Bagikan:
Padangsidimpuan - Setarapost
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Padangsidimpuan Saripuddin Siregar  angkat bicara mengenai viral dan banyaknya sorotan terhadap atraksi tari ular dibawakan dua orang waria, yang videonya tersebar di media sosial beberapa hari belakangan ini.

“ Kemarin pada Jumat (20/12), Forum Aliansi Umat Islam Tabagsel, Forum Seniman, Dewan Kesenian Daerah, dan elemen lainnya telah mendatanginya ke Kantor Kemenag Padangsidimpuan.
Mereka datang untuk konfirmasi seputar video tari ular di acara Gebyar Prima. Sebuah ajang unjuk prestasi siswa madrasah, yang digelar usai pelaksanaan ujian serentak dan sekaligus rangkaian kegiatan menyambut Hari Amal Bhakti (HAB) tahun 2019.” Ujar Saripuddin Siregar ketika ditemui wartawan, Sabtu 21 Desember 2019.

Dikatakannya, pada pertemuan itu ia sudah menjelaskan bahwa Gebyar Prima tersebut digelar di Lingkungan Siparau, Kelurahan Batunadua, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, bukan di dalam pondok pesantren.

Agenda kegiatan Gebyar Prima adalah tari kreasi islami, komedi pembelajaran, vokal solo religi, kreativitas media pembelajaran, cerita tentang tokoh-tokoh Islam, rancang busana dan fashion show yang semuanya dikemas bernuansa islami.

Adapun tari ular itu, sama sekali tidak pernah terjadwal di rangkaian acara Gebyar Prima. Artinya, tidak direncanakan tetapi muncul di tengah jalan yang tujuannya semata-mata untuk meramaikan acara.

Tetapi karena kelalaian panitia yang tidak mendetail mengkaji unsur-unsur negatif yang ditimbulkannya di kemudian hari, akhirnya tari ular yang diatraksikan dua orang waria itu terlanjur dipertontonkan.

"Sebagai pimpinan, saya bertanggungjawab atas kelalaian ini. Kami berjanji, ke depan lebih teliti, selektif, dan berhati-hati agar kesalahan yang seperti ini tidak terulang lagi," tegasnya.

Terkait kritikan yang dilontarkan berbagai elemen masyarakat, Kakan Kemenag Kota Padangsidimpuan mengucapkan ribuan terimakasih, karena ini menandakan bahwa institusi yang dipimpinnya itu benar-benar diawasi dan disayangi ummat.

Dimohonkannya juga agar perhatian dan kasih sayang dari segenap elemen masyarakat ini tetap dipertahankan sehingga lembaga yang khusus mengurusi ummat beragama ini tetap berada di jalur dan koridor yang benar.

Ia juga berulang kali mengucapkan terimakasih dan permohonan maaf kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI), para tokoh-tokoh agama, adat, seniman dan budayawan, serta seluruh elemen masyarakat.

"Tolong bantu dan ingatkan kami. Apabila ada tindakan atau perlakuan yang salah, jangan biarkan kami. Sebagai pelayan masyarakat ummat beragama, kami juga manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa," ujarnya.

Lebih jauh Saripuddin berharap, perhatian dan kasih sayang serta kerjasama ini jangan hanya karena ada insiden atau tidak sampai di sini saja. Tetapi dimanapun, kapanpun dan kepada siapapun. Semua elemen diajaknya bersama-sama menjaga kerukunan ummat beragama dan budaya yang baik di Padangsidimpuan.

INFAQ
Di kesempatan itu, Saripuddin Siregar juga menanggapi surat terbuka Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Padangsidimpuan Muktar Shabri Nasution, seputar kutipan liar berdalih infaq di lembaga pendidikan yang dinaungi Kantor Kementerian Agama.

Menurut Kakan Kemenag Padangsidimpuan, itu bukan kutipan liar. Tetapi sebuah harapan kepada siswa dan orangtua agar berikhlas hati membantu siswa miskin atau yang kurang mampu.

"Itu murni gerakan infaq atau sedekah. Sedikitpun tidak ada paksaan di sana. Infaq yang terkumpul nantinya akan disalurkan kepada siswa kurang mampu pada bulan suci Ramadhan tahun depan," jelasnya.

Terpisah, Ketua Forum Aliansi Ummat Islam Tabagsel Ganti Tua Siregar mengapresiasi Kepala Kantor Kemenag Padangsidimpuan yang segera menyadari kelalaian dan meminta maaf kepada seluruh elemen masyarakat.

"Sebagai manusia biasa, sewajarnya kita saling mengingatkan dan memaafkan. Sikap yang terus menerus menghujat itu tidak baik, karena kitapun tidak tahu jika suatu saat nanti akan menghadapi persoalan yang mungkin lebih berat lagi," ujarnya.

Persoalan yang timbul akibat kelalaian ini agar tidak dibesar-besarkan lagi dan disudahi sampai di sini saja. Seluruh ummat beragama diharap tetap saling bergandengan tangan membina kerukunan, dan bersama-sama menyelesaikan segala masalah yang muncul.(Saut Togi Ritonga)
Bagikan:
KOMENTAR