| Kondisi siswa yang dirawat setelah mengkonsumsi MBG (foto: redaksi88.com) |
Yogyakarta (Setarapost24) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri
Sultan Hamengku Buwono X kembali menyoroti sejumlah kasus dugaan keracunan yang
terjadi setelah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayahnya.
Sultan menilai kejadian tersebut bukan merupakan tindakan
yang disengaja, melainkan lebih disebabkan oleh kurangnya kehati-hatian
pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam menangani bahan
makanan hingga proses penyajiannya. Pernyataan itu disampaikan Sultan di
Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Selasa (8/92026).
Sultan Minta Pengelola Lebih Cermat
Menurut Sultan, pengelola SPPG harus memperhatikan kondisi
bahan pangan sebelum digunakan. Pemeriksaan perlu dilakukan terhadap berbagai
bahan seperti daging, ikan, maupun sayuran agar bahan yang sudah mengalami
penurunan kualitas tidak sampai diolah dan diberikan kepada siswa.
Ia juga menyoroti pentingnya fasilitas penyimpanan yang
memadai. Bahan makanan yang membutuhkan suhu rendah, khususnya daging, harus
ditempatkan dalam freezer dengan kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan
produksi.
Sultan mencontohkan, jika kebutuhan daging mencapai sekitar
10 kilogram per hari dan stok harus disiapkan untuk tiga hari, maka fasilitas
pendingin harus mampu menampung sekitar 30 kilogram bahan makanan.
Waktu Memasak dan Penyajian Jadi Perhatian
Selain kualitas bahan, Sultan menilai jarak antara waktu
memasak dan waktu makanan dikonsumsi juga perlu menjadi perhatian.
Menurut dia, makanan tertentu, terutama sayuran dan makanan
berkuah, dapat mengalami penurunan kualitas apabila dimasak terlalu dini
kemudian baru disantap beberapa jam setelahnya.
Karena itu, pengelola perlu menghitung waktu produksi,
distribusi, hingga makanan diterima siswa agar makanan tetap dalam kondisi aman
ketika dikonsumsi.
Sultan Tak Setuju MBG Dihentikan
Meskipun kasus dugaan keracunan kembali terjadi, Sultan
tidak melihat penghentian program MBG sebagai solusi utama.
Ia berpandangan program tersebut tetap dapat berjalan selama
sistem pengolahan makanan diperbaiki dan standar keamanan pangan benar-benar
diterapkan. Menurutnya, persoalan yang perlu dibenahi berada pada tata kelola
dan pelaksanaan di tingkat dapur SPPG.
Sultan sebelumnya juga pernah mengingatkan mengenai risiko
makanan yang dimasak terlalu dini. Ia menilai pola produksi makanan harus
dievaluasi agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Beban Produksi SPPG Perlu Dievaluasi
Sultan juga menyoroti kapasitas produksi SPPG yang dalam
sejumlah kasus harus menyediakan ribuan porsi makanan setiap hari.
Menurutnya, satu dapur dengan jumlah tenaga dan fasilitas
terbatas akan kesulitan menjaga kualitas makanan apabila harus memasak dalam
jumlah sangat besar sekaligus.
Ia menyarankan agar proses produksi dapat dibagi menjadi
beberapa kelompok dengan pembagian jumlah porsi yang lebih realistis. Dengan
cara tersebut, beban memasak tidak terpusat pada satu kelompok kecil dan
kualitas makanan diharapkan lebih mudah dikontrol.
Kasus Keracunan Berulang di DIY
Sorotan Sultan muncul di tengah sejumlah laporan dugaan
keracunan MBG di DIY. Kasus sebelumnya dilaporkan terjadi di Pandowoharjo dan
Turi, Sleman, serta di Jetis, Bantul.
Di Jetis, puluhan siswa SD dilaporkan mengalami gangguan
kesehatan setelah menyantap MBG pada 4 September. Hingga 8 September, masih
terdapat 32 siswa yang belum kembali bersekolah.
Sementara itu, SPPG di Patalan, Jetis, Bantul, telah dihentikan sementara setelah 50 siswa dan tiga guru SDN 1 Sumberagung diduga mengalami keracunan. Penghentian tersebut dilakukan sembari menunggu evaluasi dari Badan Gizi Nasional (BGN). (detikjogja)