Sultan HB X Soroti Kelalaian SPPG di Tengah Maraknya Kasus Keracunan MBG

Rabu, 09 September 2026 | 18.49 WIB

Bagikan:

 

Kondisi siswa yang dirawat setelah mengkonsumsi MBG (foto: redaksi88.com)

Yogyakarta (Setarapost24) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X kembali menyoroti sejumlah kasus dugaan keracunan yang terjadi setelah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayahnya.


Sultan menilai kejadian tersebut bukan merupakan tindakan yang disengaja, melainkan lebih disebabkan oleh kurangnya kehati-hatian pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam menangani bahan makanan hingga proses penyajiannya. Pernyataan itu disampaikan Sultan di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Selasa (8/92026).


Sultan Minta Pengelola Lebih Cermat

Menurut Sultan, pengelola SPPG harus memperhatikan kondisi bahan pangan sebelum digunakan. Pemeriksaan perlu dilakukan terhadap berbagai bahan seperti daging, ikan, maupun sayuran agar bahan yang sudah mengalami penurunan kualitas tidak sampai diolah dan diberikan kepada siswa.


Ia juga menyoroti pentingnya fasilitas penyimpanan yang memadai. Bahan makanan yang membutuhkan suhu rendah, khususnya daging, harus ditempatkan dalam freezer dengan kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan produksi.


Sultan mencontohkan, jika kebutuhan daging mencapai sekitar 10 kilogram per hari dan stok harus disiapkan untuk tiga hari, maka fasilitas pendingin harus mampu menampung sekitar 30 kilogram bahan makanan.


Waktu Memasak dan Penyajian Jadi Perhatian

Selain kualitas bahan, Sultan menilai jarak antara waktu memasak dan waktu makanan dikonsumsi juga perlu menjadi perhatian.


Menurut dia, makanan tertentu, terutama sayuran dan makanan berkuah, dapat mengalami penurunan kualitas apabila dimasak terlalu dini kemudian baru disantap beberapa jam setelahnya.


Karena itu, pengelola perlu menghitung waktu produksi, distribusi, hingga makanan diterima siswa agar makanan tetap dalam kondisi aman ketika dikonsumsi.


Sultan Tak Setuju MBG Dihentikan

Meskipun kasus dugaan keracunan kembali terjadi, Sultan tidak melihat penghentian program MBG sebagai solusi utama.


Ia berpandangan program tersebut tetap dapat berjalan selama sistem pengolahan makanan diperbaiki dan standar keamanan pangan benar-benar diterapkan. Menurutnya, persoalan yang perlu dibenahi berada pada tata kelola dan pelaksanaan di tingkat dapur SPPG.


Sultan sebelumnya juga pernah mengingatkan mengenai risiko makanan yang dimasak terlalu dini. Ia menilai pola produksi makanan harus dievaluasi agar kejadian serupa tidak terus berulang.


Beban Produksi SPPG Perlu Dievaluasi

Sultan juga menyoroti kapasitas produksi SPPG yang dalam sejumlah kasus harus menyediakan ribuan porsi makanan setiap hari.


Menurutnya, satu dapur dengan jumlah tenaga dan fasilitas terbatas akan kesulitan menjaga kualitas makanan apabila harus memasak dalam jumlah sangat besar sekaligus.


Ia menyarankan agar proses produksi dapat dibagi menjadi beberapa kelompok dengan pembagian jumlah porsi yang lebih realistis. Dengan cara tersebut, beban memasak tidak terpusat pada satu kelompok kecil dan kualitas makanan diharapkan lebih mudah dikontrol.


Kasus Keracunan Berulang di DIY

Sorotan Sultan muncul di tengah sejumlah laporan dugaan keracunan MBG di DIY. Kasus sebelumnya dilaporkan terjadi di Pandowoharjo dan Turi, Sleman, serta di Jetis, Bantul.


Di Jetis, puluhan siswa SD dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap MBG pada 4 September. Hingga 8 September, masih terdapat 32 siswa yang belum kembali bersekolah.


Sementara itu, SPPG di Patalan, Jetis, Bantul, telah dihentikan sementara setelah 50 siswa dan tiga guru SDN 1 Sumberagung diduga mengalami keracunan. Penghentian tersebut dilakukan sembari menunggu evaluasi dari Badan Gizi Nasional (BGN). (detikjogja)

Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI

 
SETARAPOST24 - ALL RIGHTS RESERVED