| Kondisi siswa yang diduga mengalami keracunan MBG (foto: bbc.com) |
Yogyakarta (Setarapost24) - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis
(MBG) kembali mendapat sorotan setelah muncul laporan gangguan kesehatan di
sejumlah daerah. Di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, ratusan siswa dan guru
mengalami mual serta diare setelah mengonsumsi menu MBG. Sementara di Daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY), pemerintah mengambil langkah evaluasi dan membekukan
sementara 14 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Di Pati, 273 siswa dan 43 guru dari dua sekolah di Kecamatan
Gembong dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan MBG
yang dibagikan pada Selasa, 8 September 2026. Mereka berasal dari SMP Negeri 1
Gembong dan MTs Negeri 3 Pati.
Dari SMP Negeri 1 Gembong, tercatat 103 siswa dan 13 guru
mengalami mual dan diare. Sementara di MTs Negeri 3 Pati terdapat 127 siswa dan
30 guru yang mengalami keluhan serupa. Para korban kemudian mendapatkan
penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Siswa Mengalami Beragam Keluhan
Sejumlah siswa dan orang tua di Pati menceritakan kondisi
yang dialami setelah mengonsumsi makanan tersebut. Keluhan yang muncul antara
lain diare berulang, pusing, mual, muntah, sakit perut hingga mimisan.
Salah seorang siswa bahkan mengaku mengalami diare hingga
beberapa kali dalam sehari disertai pusing. Kondisi tersebut membuat sebagian
siswa mengaku trauma untuk kembali mengonsumsi menu MBG. Pemberitaan mengenai
pengalaman para korban juga mencatat adanya orang tua yang membawa anaknya
untuk mendapatkan pemeriksaan setelah mengalami mual dan muntah.
Meski dugaan awal mengarah pada makanan MBG, Dinas Kesehatan
Kabupaten Pati belum memastikan makanan tersebut sebagai penyebab. Petugas
masih melakukan penyelidikan epidemiologis dan menunggu hasil pemeriksaan
laboratorium.
Investigasi di Sleman Belum Menemukan Penyebab Pasti
Kasus berbeda terjadi di Kabupaten Sleman, DIY. Dinas
Kesehatan Sleman bersama Puskesmas Turi dan Field Epidemiology Training Program
(FETP) UGM melakukan penyelidikan terhadap laporan gangguan kesehatan yang
dialami penerima MBG dari SPPG Wonokerto, Kapanewon Turi.
Hasil sementara hingga Senin malam, 7 September 2026,
menunjukkan dari 261 responden, sebanyak 35 orang mengalami keluhan kesehatan,
sementara 226 lainnya tidak mengalami keluhan. Dari keseluruhan responden, 204
orang tercatat mengonsumsi MBG.
Keluhan yang paling banyak ditemukan adalah pusing dan sakit
perut, masing-masing dialami 86 persen responden. Keluhan berikutnya berupa
mual 69 persen, sakit kepala 66 persen, lemas 54 persen, serta muntah 34
persen.
Dalam penanganannya, satu pasien sempat menjalani rawat inap
di RSUD Sleman. Sebanyak 19 orang menjalani rawat jalan, tujuh orang berobat
secara mandiri, sedangkan sembilan orang tidak menjalani pengobatan.
Menu Bola-Bola Sapi Masih Ditelusuri
Hasil analisis epidemiologi terhadap lima menu MBG yang
dikonsumsi penerima manfaat belum menunjukkan hubungan yang signifikan secara
statistik dengan gangguan kesehatan tersebut.
Menu bola-bola sapi goreng memang menunjukkan ukuran
asosiasi paling tinggi dalam analisis, tetapi petugas belum dapat menyimpulkan
bahwa makanan tersebut menjadi penyebab gangguan kesehatan. Pemeriksaan dan
penelusuran masih berlangsung.
Hal ini menunjukkan bahwa laporan gangguan kesehatan setelah
mengonsumsi MBG belum otomatis dapat disebut sebagai keracunan akibat makanan
tersebut. Kepastian penyebab tetap menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan
penyelidikan epidemiologis.
14 SPPG di DIY Dibekukan
Di tengah munculnya sejumlah kasus tersebut, Badan Gizi
Nasional (BGN) membekukan sementara 14 SPPG di DIY. Kebijakan itu diambil
setelah muncul kasus gangguan kesehatan sekaligus temuan terkait persoalan
perizinan.
Selain menghentikan sementara operasional SPPG yang
bersangkutan, anggaran untuk unit-unit tersebut juga ditahan. Pemerintah
menyatakan langkah tersebut merupakan bagian dari evaluasi dan upaya melindungi
anak-anak penerima manfaat program MBG.
Biaya pengobatan bagi korban yang terdampak juga disebut
akan ditanggung oleh BGN.
Keamanan Pangan Menjadi Sorotan
Rentetan kejadian di Pati dan DIY kembali menempatkan keamanan
pangan sebagai persoalan penting dalam pelaksanaan MBG. Program yang menyasar
anak-anak dalam jumlah besar membutuhkan sistem pengawasan yang ketat, mulai
dari pemilihan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi
makanan ke sekolah.
Di Pati, penyebab gangguan kesehatan masih dalam
penyelidikan. Di Sleman, hasil pemeriksaan awal juga belum membuktikan adanya
hubungan signifikan antara menu MBG dengan keluhan kesehatan.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan seluruh proses investigasi dilakukan secara terbuka dan menyeluruh agar penyebab setiap kejadian dapat diketahui secara jelas dan kejadian serupa tidak berulang. (ANTARA, Suara.com, Mitrapost, SuaraJogja, dan Portaloka)