![]() |
| Citra satelit erupsi anak Gunung Krakatau (foto: bbc news Indonesia) |
Jakarta (Setarapost24) - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami erupsi menerus pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 4–5 September 2026. Aktivitas vulkanik tersebut diduga berkaitan dengan suara dentuman dan getaran yang dilaporkan terdengar serta dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa waktu munculnya laporan dentuman dan getaran memiliki kesesuaian dengan periode erupsi Anak Krakatau yang berlangsung sekitar pukul 23.07 hingga 04.40 WIB. Menurut penjelasan Badan Geologi, aktivitas erupsi yang berlangsung selama beberapa jam tersebut berkaitan dengan semburan lava yang dapat menghasilkan gelombang suara berfrekuensi rendah.
Suara tersebut bahkan dilaporkan terdengar hingga kawasan Bandung Raya yang berjarak cukup jauh dari Anak Krakatau. Badan Geologi menjelaskan bahwa gelombang suara berfrekuensi rendah dapat merambat ratusan kilometer melalui atmosfer. Kondisi atmosfer, termasuk perubahan suhu, tekanan, serta arah angin pada ketinggian tertentu, dapat memengaruhi jalur perambatan suara hingga kembali terdengar di permukaan.
Selain suara dentuman, pengamatan terhadap aktivitas gunung menunjukkan adanya semburan berwarna merah yang berlangsung terus-menerus. Karakter visual tersebut menyerupai fenomena lava fountain atau semburan lava dari kawah.
Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung karena masih terdapat potensi bahaya berupa lontaran material vulkanik, aliran lava, awan panas, dan hujan abu.
Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tetap waspada tetapi tidak panik. Warga juga diminta mengikuti informasi resmi dari PVMBG, Badan Geologi, dan BPBD serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, khususnya mengenai potensi tsunami.
Badan Geologi menyatakan bahwa berdasarkan evaluasi saat laporan tersebut dibuat, pertumbuhan tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil sehingga tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dilakukan oleh PVMBG. Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak juga diminta memperhatikan perkembangan resmi, terutama apabila terjadi hujan abu vulkanik.
